Alkisah pada suatu saat majikan Abunawas akan mengadakan perjalanan jauh untuk berniaga bersama seluruh pegawainya. Karena perjalanan yang harus ditempuh sangat jauh dan melewati gurun pasir yang sangat panas maka Bekal yang dibawa sangat banyak terutama tentu saja bekal air minum. Mengingat tubuh Abunawas yang paling kecil diantara pegawai yang lain, maka tuannya memberi keleluasan kepada Abunawas untuk memilih sendiri barang yang akan dibawanya dalam perjalanan tersebut. Tentu saja Abunawas sangat senang dengan apa yang disampaikan tuannya. Abunawas segera memilih barang yang akan dibawanya dalam perjalanan niaga tersebut. Akhirnya Abunawas memilih untuk membawa gentong berisi air minum yang ukurannya sangat besar. Tentu saja tuannya sangat kaget dengan pilihan Abu Nawas tersebut, karena Gentong yang berisi air minum lebih berat dibanding barang bawaan yang lain. “Benarkah kamu akan membawa gentong air minum ini? Kenapa tidak memilih barang lain yang lebih ringan?” Tanya sang Tuan kepada Abu Nawas. “Benar Tuan saya memilih membawa gentong air minum ini”.Jawab Abunawas mantap.”Terserah kamu saja, yang jelas Saya sudah memberi kesempatan kepada kamu untuk memilih barang yang lebih ringan”Kata tuannya lagi.
Selesai melakukan Sholat Subuh Majikan Abunawas beserta seluruh pegawainya segera berangkat untuk melakukan niaga. Setiap orang membawa barang sendiri-sendiri baik untuk perbekalan diperjalanan maupun yang akan dijual. Karena yang dibawa abunawas cukup berat maka abunawas tidak bisa berjalan cepat sehingga selalu berada dibelakang rombongan. Setelah berjalan cukup lama maka sang majikan menyuruh semua anggota rombongan tersebut untuk beristirahat melepas lelah. Karena daerah yang dilewati sebagian besar adalah gurun pasir tentu saja udaranya sangat panas maka seluruh anggota merasa kehausan. Mereka beramai-ramai mengambil air minum dari gentong yang dibawa Abunawas. Abunawas tentu saja tidak keberatan bahkan mempersilakan semua anggota rombongan untuk meminum sebanyak-banyaknya. Abunawas menyadari bahwa air minum tersebut bukan miliknya tetapi milik majikannya. Disamping itu Abunawas juga faham bahwa semakin banyak mereka minum dari gentong yang dibawanya maka beban dia dalam perjalanan selanjutnya akan semakin berkurang sehingga terasa ringan.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Abunawas merupakan cermin kita dalam menjalani kehidupan ini. Dalam cerita diatas pelaku utamanya adalah Abu nawas sedangkan dalam kehidupan nyata kitalah pelaku utamanya. Dalam cerita di di atas pemilik semua barang adalah majikan abunawas, sedangkan dalam kehidupan nyata pemilik seluruh harta yang sebenarnya adalah Allah Subhanahu Wata’ala.
Seperti halnya Abunawas, hampir semua dari kita lebih suka menjadi orang kaya (berharta banyak) daripada orang miskin (sedikit harta) . Kita juga sebenarnya menyadari kalau disamping merupakan anugrah, pada hakekatnya harta yang Allah titipkan sebenarnya merupakan beban/cobaan bagi kita (QS. ATTAGHAABUN ayat 15). Lalu bagaimana agar beban tersebut menjadi lebih ringan? Seperti halnya Abunawas yang membiarkan anggota rombongan untuk meminum air yang dibawanya sebanyak-banyaknya, maka hendaknya kita juga membiarkan sebanyak mungkin orang lain ikut menikmati atau merasakan harta yang dititipkan Allah kepada kita. Dengan semakin banyak orang lain ikut menikmati harta yang dititipkan Allah kepada kita Insya Allah beban kita dalam perjalanan di alam selanjutnya setelah kita istirahat (mati) akan lebih mudah dan ringan. Semoga.
